BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sebagai negara yang menempati
urutan teratas negara berpenduduk muslim, tentu menjadikan kebanggaan
tersendiri bagi bangsa Indonesia. Namun, perlu diketahui bahwa hal itu tidak
lantas membuat kita bersikap hanya bangga, justru seharusnya memotivasi kita
untuk membuktikan kepada dunia bahwa kita memang pantas mendapatkan predikat
tersebut.
Dan kita tahu bahwa masyarakat
kita saat ini sudah banyak kehilangan akhlakulkarimahnya sehingga perlu
pemahaman dan pembelajaran mengenai akhlak tasawuf.
Dengan akhlaq tasawuf maka
kita akan terlatih untuk membebaskan kita dari pengaruh kehidupan dunia,
sehingga tercermin ahlak yang mulia dan dekat dengan Allah Swt.
Hubungan antara manusia dengan Tuhannya agar mencapai suatu nikmat
komunikasi yang sesungguhnya dapat dilakukan dengan cara manusia perlu
mengasingkan diri. Sebenarnya mengasingkan diri memiliki dua makna, pertama,
kita menjauhkan diri kita secara lahir maupun batin dari hal-hal keduniawian
dengan meninggalkan keramaian. Kedua, kita mengasingkan diri dengan batiniah
kita dengan keberadaan kita di tengah-tengah masyarakat pada umumnya, dalam
artian menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat keduniawian. Yang keduanya
memiliki tujuan untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. Sehingga kedekataannya
dengan Tuhan akan berbentuk persatuan dengan Tuhan bagaimanapun keadaanya.
B.
Rumusan Masalah
a.
Apa saja permasalahan yang
timbul di masyarakat saat ini?
b.
Apa kaitan akhlaq tasawuf dalam
kehidupan masyarakat?
c.
Bagaimana fungsi akhlaq tasawuf
sebagai pengendalian sosial?
C.
Tujuan
a.
Untuk mengetahui masalah yang
banyak timbul di masyarakat saat ini.
b.
Untuk mengetahui peran akhlaq
tasawuf dalam masyarakat.
c.
Untuk mengetahui fungsi akhlaq
tasawuf sebagai pengendalian sosial.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Masyarakat
dan permasalahan
Sebagai makhluk sosial manusia melakukan intraksi dengan
lingkungan. Baik itu pada lingkungan dalam arti tempat tinggal maupun
ditengah-tengah masyarakat luas. Dalam prakteknya manusia akan menjumpai
masalah-masalah yang bisa disebabkan dari berbagai sumber, mulai dari dirinya
sendiri atau bahkan lingkungannya sendiri.
Pada pokok islam akhlaq dibagi menjadi dua macam, yaitu akhlaq
mahmudah (akhlaq terpuji) dan akhlaq mazmumah (akhlaq tercela).[1]
Dengan keberadaan kedua akhlaq ini maka akan ada dampak yang mengiringinya.
Akhlaq mahmudah memiliki dampak positif sehingga berpotensi mempersempit
timbulnya masalah. Sebaliknya akhlaq mazmumah pada manusia memiliki peran yang
besar dalam menimbulkan masalah.
Berikut beberapa contoh problematika yang muncul ditengah-tengah
masyarakat, yang sejatinya masalah-masalah itu memang sunnatullah akan selalu
ada seiring dengan pergantian zaman.
1.
Masa
bodoh atau Apatis
Sikap ini termasuk kedalam masalah
apabila dia dibiarkan. Masa bodoh dengan hal yang tidak terlalu penting (tidak
begitu berdampak pada kehidupan sosial) bisa dimaklumi. Akan tetapi apabila hal
ini sudah menjamah kehidupan sosial, maka akan berdampak negatif dan dapat
menganggu stabilitas kehidupan sosial.
2.
Krisis
Karakter dan Identitas Islam
Kita tahu bahwa kepribadian
seseorang dapat kita tengok bagaimana karakternya. Namun dewasa ini kita sulit
mengartikan karakter seseorang karena maraknya “plagiasi” atau peniruan
karakter. Yang kadang bertentangan dengan karakter plagiator sesungguhnya.
Misalkan banyak dari saudara-saudara kita yang telah kehilangan karakter
islamnya. Mengakui bahwa islam adalah agamanya, namun menebarkan permusuhan
dimana-mana.
Suatu hal yang sangat disayangkan
ketika kita melihat berita kriminal di televisi, maka apa yang kita dapati ?
kebanyakan tersangka ber-KTP islam. Atau dengan saudari-saudari kita yang masih
enggan mengenakan penutup kepalanya (jilbab) dengan alasan yang sebenarnya
bukan syar’i. Hal demikian bertentangan dengan islam karena islam mengajarkan
kepada kita tentang perdamaian, menjauhi
maksiat, dan senantiasa berbuat baik kepada siapa saja, sekalipun bukan dengan
orang islam.
3.
Penyalahgunaan
ilmu pengetahuan dan teknologi
Masa sekarang ini bisa dikatakan
sebagai masa yang serba ada dan serba bisa. Ketika hendak melakukan suatu
pekerjaan, maka kita akan dimanjakan dengan hal-hal yang begitu memudahkan
kita, contoh sederhana, ponsel, internet,
televisi, dll.
Seiring dengan keberadaannya yang
dapat membantu manusia dalam aktifitasnya alat-alat ini pun seringkali
digunakan tidak sebagaimana mestinya. Begitu pula dengan ilmu pengetahuan yang
sedang berkembang saat ini. banyak penyalahgunaan yang sejatinya disebabkan
dengan penyaluran ilmu pengetahuan yang tidak bijak.
4.
Kehidupan
matrealistik
Akibat lebih
jauh dari modernisasi dan industrialisasi, manusia mengalami degradasi moral
yang dapat menjatuhkan harkat dan martabatnya. Kehidupan modern seperti saat
ini sering menampilkan sifat-sifat yang kurang dan tidak terpuji, terutama
dalam menghadapi materi yang gemerlap.[2]
Hidup boros, segalanya dinilai bagaikan uang atau materi, seolah-olah menjadi
tren yang senter di masyarakat.
5.
Menghalalkan
segala cara
Disaat begitu banyak tuntutan
pemenuhan kebutuhan yang tengah menghimpit kehidupan kita saat ini, atau gaya
hidup yang terlanjur “wah”, maka disaat itulah keimanan kita sedang diuji.
Manusia yang memiliki kadar keimanan yang rendah akan memilih jalan pintas
dengan menghalalkan segala cara demi memenuhi hasratnya.
6.
Pesimisme
sehingga Kehidupan menjadi tidak Tentram
Fenomena saat ini, banyak dari
manusia menganggap bahwa Allah tidak lagi mempedulikan hidupnya. Ketika dia
dalam keadaan yang sedang mendapat musibah. Bahkan seolah-olah merasa bahwa
haknya telah diambil oleh Allah. Sekali-kali tidak, karena dalam al-Qur’an
surat al-Baqarah 286:
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَهَا مَا كَسَبَتۡ
وَعَلَيۡهَا مَا ٱكۡتَسَبَتۡۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ
أَخۡطَأۡنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرٗا كَمَا حَمَلۡتَهُۥ عَلَى
ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا
بِهِۦۖ وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَآۚ أَنتَ مَوۡلَىٰنَا
فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٢٨٦
“Allah
tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat
pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan)
yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada
orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami
apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan
rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum
yang kafir"(al-Baqarah: 286)
Sehingga menjalani kehidupan ini dengan rasa pesimisme seperti
tiada harapan lagi baginya, dan sikap itu enjdikan kehidupan menjadi tidak
tentram. Padahla telah jelas bahwa Allah tidak akan menguji manusia diluar
kemampuanya.
B.
Akhlaq
Tasawuf dalam Kehidupan Masyarakat
Akhlaq merupakan perbuatan manusia yang dapat dinilai baik atau
buruk. Manusia berakhlaq yang baik tentu mengetahui segala yang telah ia perbuat
akan dimintai pertnggungjawaban diakhirat kelak. Dalam al-Qur’an telah
ditegaskan bahwa :
فَمَن
يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ ٧
وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُۥ ٨ [سورة الـزلزلة,٧-٨]
7. Barangsiapa
yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat
(balasan)nya
8. Dan barangsiapa
yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat
(balasan)nya pula[Az-Zalzalah,7-8].
Sehingga dalam aktifitas
kesehariannya akan bersikap hati-hati dalam bertindak. Namun bagi mereka yang
agaknya kurang perhatian tentang hal ini akan selalu bertindak sembrono. Bisa
saja karena belum tahu atau memang petunuk Allah belum sampai kepadanya.
Tasawuf adalah bagian dari syari’at islam, yakni perwujudan dari ihsan,
salah satu dari tiga kerangka ajaran islam yang lain, yakni iman dan islam.
Oleh karenanya, perilaku tasawuf harus sesuai dengan syari’at. Maka Abu Yazid
al-Busthami mengatakan, sebagaimana dinukilkan oleh al-Qusyairi (1950:103),
kita tidak boleh tergiur oleh orang yang diberi kekeramatan, sehingga tahu
betul konsistensinya terhadap syari’at islam.[3]
Perilaku mendekatkan diri kepada Allah merupakan suatu
upaya untuk senantiasa melibatkan-Nya dalam setiap aktifitas kita. Dengan
demikian akan membuat kita senantiasa selalu merasa diawasi dan akan “malu”
bila berbuat maksiat. Dalam masyarakat pun akhlaq tasawuf memiliki peran yang
berarti karena dengan adanya akhlaq tasawuf di tengah-tengah kehidupan
masyarakat tentu akan menjadikan aktifitas menjadi stabil dan permasalahan yang
dihadapi dengan mudah atau dapat diminimalkan timbulnya masalah yang dapat
menganggu.
C.
Fungsi
Akhlaq Tasawuf dalam Kehidupan sosial
Pada awal XXI, tasawuf dituntut untuk lebih humanistic,empiric dan
fungsional. Penghayatan terhadap ajaran islam, bukan hanya reaktif, tetapi
aktif serta memberikan arah terhadap sikap manusia di dunia ini, baik berupa
moral, spiritual, sosial, ekonomi dsb. Dan ketika tasawuf menjadi pelarian dari dunia yang kasat mata menuju dunia yang
spiritual, bisa dikatakan sebagai reaksi dan tanggung jawab sosial, yakni
kewajiban dalam menjalankan tugas dan merespon terhadap masalah-masalah sosial.[4]
Dalam mengatasi masalah yang timbul di dalam masyarakat yang begitu
kompleks, memang membutuhkan strategi yang efektif dimulai dari diri sendiri. Dengan
demikian yang dapat dilakukan untuk mengatasi carut marut kehidupan yang begitu
melelahkan dengan alternatif problem
solve antara lain:
1.
Berperasangka
baik kepada Allah
Kita sebagai manusia
yang merupakan makhluk ciptaan Allah harus menyadari apapun kekurangan yang ada
pada diri kita, karena apapun kekurangan yang ada pada diri kita terdapat hikmah
tersendiri bagi diri kita. Contohnya, penyanyi dangdut Indonesia, Subro, dia
memiliki keterbatasan dalam penglihatan, akan tetapi ia memiliki kelebihan
dalam suaranya, dan masih banyak contoh lain disekitar kita.
Untuk itu, pola
piker kita harus diubah, yaitu agar senantiasa berfikir positif, berprasangka
baik kepada Allah (husnuzh zhan), dalam kondisi apapun dan suasana
bagaimanapun. Karena secara psikologis, pikiran positif akan membentuk mental
yang baik dan perilaku yang terpuji. Dalam tasawuf, husnuzh zhan
menjadi syarat mutlak bagi seseorang untuk
mencapai tatanan moral yang tinggi.[5]
2.
Tawakal
dengan ikhtiar
Usaha yang
telah kita lakukan dengan segala keterbatasan, akan membuat kita harus selalu
optimis dalam berbagai masalah yang menghampiri kita. Seperti halnya ketika
kita sedang berusaha atau sedang mengerjakan sesuatu akan tetapi hasilnya tidak
sesuai dengan apa yang kita harapkan, maka alangkah baiknya kita tidak ber-su’u
dzon pada Allah, tidak menyerah dan tetap berusaha, karena
sesungghnya itu adalah makna hakiki dari “Tawakal dengan ikhtiar”.
3.
Menumbuhkan
optimisme dengan syukur
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah
yang paling mulia. Salah satu cara untuk bersyukur adalah dengan selalu berfikir
optimis terhadap diri sendiri. Jangan berfikir bahwa usaha yang kita lakukan
tidak membuahkan hasi, sekecil-kecilnya usaha yang kita lakukan pasti akan mebuahkan
hasil baik itu disadari maupun tidak disadari. Akan tetapi kita tidak boleh optimis
secara berlebihan atau membanggakan diri karena hal itu tidak baik (dalam islam
sesuatu yang berlebihan itu tidak baik).
Memang benar perasaan bangga adalah
bagian dari kesombongan. Atau lebih tepatnya, sebagaimana ungkapan para ahli
tasawuf, rasa bangga dapat menjadi sumber penyakit hati yang lain. Rasa bangga
dapat membuat orang sombong, hasud, dengki, merendahkan orang lain, dan berbuat
sewenang-wenang.[6]
4.
Hidup
dengan kesederhanaan
Kehidupan manusia yang sementara
tidaklah pantas apabila dilakukan dengan yang berlebihan. Kesederhanaan adalah
ciri seorang muslim. Bahkan Rasulluah telah mengajarkan kesederhana melalui
kehidupan keseharian beliau. Sederhana bukan berarti kita lantas mengnggap
segalanya “gampang” namun haruslah disertai dengan pertimbangan. Karena hal itu
sesuai dengan perkembangan di setiap zaman.
BAB
III
PENUTUP
A.
Analisis
Kehidupan sosial manusia erat kaitannya dengan masalah karena
manusia sebagai makhluk sosial tentu akan berinteraksi dengan manusia lainnya.
Sehingga baik sengaja atau tidak sengaja akan menimbulkan masalah. Banyak
fenomena-fenomena sosial yang tampak disekitar kita. Dan hal itu dapat
diantisipasi dengan mengembalikan segala urusan kita kepada Allah dan
Rosul-Nya. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa manusia itu adalah makhluk lemah
yang membutuhkan campur tangan Allah dan bantuan manusia lain.
Menghadapi keadaan yang begitu menyesakkan perlunya solusi yang
efektif demi tercapainya kesejahteraan manusia di Bumi. Dengan menghadirkan
akhlaq tasawuf di tengah-tengah kita memang diperlukan usaha yang tidak
sendiri, tetapi perlunya kerja sama. Dan hal itu juga harus dilandasi dengan menyadarkan
kita dari “tidur panjang” kita selama ini.
B.
Kesimpulan
Dalam prakteknya manusia akan menjumpai masalah-masalah yang bisa
disebabkan dari berbagai sumber, mulai dari dirinya sendiri atau bahkan
lingkungannya sendiri. Masalah yang timbul di dalam masyarakat tidak dapat di
hindari tetapi bisa diminimalisir. Masalah yang begitu kompleks harus dilalui
dengan kesabaran, menyadari kelemahan, dan bertawakal setelah berikhtiar kepada
Allah.
DAFTAR PUSTAKA
Syukur,
Amin. 2006. Tasawuf bagi Orang Awam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Syukur,
Amin. 2004. Tasawuf Sosial. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Tatapangarsa,
Humaidi. 1991. Akhlaq yang Mulia.
Surabaya: PT Bina Ilmu
[1] Humaidi Tatapangarsa, Akhlaq yang Mulia
(Surabaya:PT Bina Ilmu, 1991).147
[3] Amin Syukur, Tasawuf sosial ( Yogyakarta : Pustaka Belajar,
2004).12
[4]Humaidi Tatapangarsa, Akhlaq yang Mulia
(Surabaya:PT Bina Ilmu, 1991).21
[5]Amin syukur, Tasawuf bagi orang awam (Yogyakarta:Pustaka Pelajar,
2006). 95
[6] Amin syukur, Tasawuf bagi orang awam (Yogyakarta:Pustaka Pelajar,
2006). 119
Komentar
Posting Komentar