ULANGAN
TENGAH SEMESTER
SEJARAH
AGAMA BUDHA DAN PAKAR AGAMA
Perbandingan Agama
Dosen Pengampu: Imamul Huda, M. Pd. I
Disusun Oleh :
Kelas H
Ariska Ayu Safitri (111-14-225)
Muhammad Hisyam (111-14-237)
Rani Dwi Pujianti (111-14-252)
FAKULTAS
TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM (PAI)
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Agama Budha
merupakan salah satu agama besar di dunia. Kata
Buddha sendiri diambil dari kata Buddh yang berarti membangun.
Sedangkan orang Buddha sendiri artinya orang yang
membangun. Ada juga sebutan lain yakni Bhagavat artinya yang luhur serta Tathagat
artinya yang sempurna. Selanjutnya seorang Buddha adalah orang yang mendapat
pengetahuan dengan kekuatannya sendiri.[1]
Pengetahuan
tentang agama Budha perlu digali lebih dalam. Karena menjadi salah satu agama
besar di dunia menunjukkan bahwa pengikut agama Budha pun banyak. Penyebaran
agama Budha tidak luput dari peran pakar agamanya. Dari beberapa hal tersebut
pembahasan kita kali ini akan dimulai dari sejarah atau asal usul agama Budha,
kemudian ajaran-ajaran yang dibawa oleh agama Budha, perayaan-perayaan dalam
ajaran Budha, kitab suci dan pakar agama Budha.
B.
Rumusan
Dari latar belakang
tersebut dapa kita ambil rumusan masalah sebagai berikut:
a.
Bagaimana Sejarah Agama Budha dan Siapa
Pakar Agama Budha?
b.
Apa Pokok ajaran dan Apa saja
perayaan-perayaan yang ada Agama Budha?
C.
Tujuan
Maka dapat kita peroleh
tujuan:
a.
Mengetahui sejarah agama Budha dan Mendiskripsikan
pakar agama Budha.
b.
Dapat mengetahui pokok ajaran dan
perayaan-perayaan agama Budha
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Agama Budha
Agama
Budha lahir dan berkembang pada abad ke-6 SM. Agama ini memperoleh namanya dari
panggilan yang diberikan kepada pendirinya yaitu siddarta Gautama. Yang
memiliki sebutan Buddha. Siddharta Gautama mendapat sebutan Buddha, setelah
menjalani sikap hidup penuh kesucian, bertapa, berkhalwat, mengembara untuk
mencari kebenaran selama tujuh tahun lamany, dan dibawah sebuah pohon yang
besar di kota Goya ia memperoleh hikmat dan cahaya hingga sampai kini pohon
tersebut disebut pohon hikmat.[2]
Menurut riwayat hidupnya, gautama mula-mula beragama
hindu mengikuti orang tuanya. Untuk mencegah pengaruh kehidupan masyarakat yang
mungkin dapat melemahkan
kepercayaan/keimanannya dalam agama, maka dia tidak diizinkan melihat kenyataan
hidup di luar istana. Dia mengalami pendidikan isolatif dari masyarakat luas di
luar istana. Untuk menentramkan kehidupannya dia senantiasa di kelilingi dengan
kehidupan serba mewah yang khas istana yang penuh dengan kenikmatan dan
kelezatan.[3]
Siddharta
dilahirkan dari golongan kasta Ksatria pada abad ke-6 SM, atau tepatnya pada
tahun 563 SM. Di daerah tersebut yang sekarang disebut Nepal. Ayahnya bernama
Suddhadana beliau seorang raja dari kerajaan Sakya yang beribu kota di
Kapilavastu. Sedangkan ibunya bernama Maya[4].
Siddharta dilahirkan pada bulan purnama pada hari Vaisakh dibawah sebuah pohon
sala yang sedang berbunga di taman lumbini. Ketika Maya dalam perjalanan dari
Kapilavasta mengunjungi keluarganya di Dewadaha.
Beberapa
orang suci mengatakan banyak mukjizat yang terjadi atas kelahiran Buddha ke
dunia ini. Pada saat Maya mengandung, ia bermimpi bahwa ia dibawa ke Himalaya
oleh para malaikat, dimandikan dengan air suci dan ditempatkan pada dipan yang
terbuat dari emas. Kemudian datanglah seekor gajah putih membawa bunga lotus
(padma) masuk kedalam tubuh melalui sisi kanannya.[5]
Pada
hari kelahirannya cahaya yang tak terhingga menyinari alam semesta, orang buta
dapat melihat, orang tuli dapat mendengar, orang bisu dapat berbicara,
bunga-bunga berjatuhan dari langit, musik dan wangi-wangian bertebaran
dimana-mana. Anak lelaki itu berjalan tujuh langkah di atas bunga-bunga lotus
beberapa saat setelah kelahirannya.
Semasa
hidupnya dalam kemewahan. Mengingat kata-kata ahli peramal, Suddhadana
mendapatkan bahwa putranya harus menjadi pemimpin dunia bukan seorang Buddha.
Guru-guru terbaik pun diundang untuk mendidiknya. Yang mengajarkan tidak hanya
hikmah tetapi juga berbagai macam seni. Dikatakan bahwa guru-gurunya kagum akan
kecepatan Siddharta menguasai setiap ilmu yang diajarkan kepadanya. Sekalipun
demikian sebagai seorang anak ia sering Nampak duduk termenung, berfikir sangat
serius.
Sudhadana
melakukan apa saja yang dapat mencegah anaknya dari hal-hal yang dapat membuat
anaknya merasakan penderitaan hidup. Istana dibangunkannya untuk berbagai
musim, dilengkapai dengan perabotan serba mewah. Dia dikelilingi oleh berbagai
keindahan dan kesenangan. Upaya pencegahan terus menerus dilakukan dari
pandangannya orang sakit, tua dan lemah. Tak seorangpun diperbolehkan bercerita
tentang penyakit atau kematian, penderitaan dan keyidak bahagiaan.
Ketika
Siddharta berusia 16 tahun, semua gadis cantik diundang agar ia dapat memilih
seorang istri dari salah satu diantara mereka. Semua gadis tersebut lewat
dihadapannya dan menerima hadia darinya. Gadis terakhir adalah Yasodhara. Namun
hadiah sudah habis. Maka kalung permata di lehernya dilepas dan diikatkan
dipinggangnya sambil berkata “ buat yang terjujur dari semuanya” maka Yasodhara
putrid Suppabuddha inilah yang menjadi pilihannya.[6]
Pernikahan
mereka sanggat menyenangkan. Akan tetapi kehidupan mereka terbatas dalam
lingkungan istana. Suatu saat Siddarta meminta izin ayahnya untuk keluar
istana, maka Suddhadana menolaknya. Dia mengutus seseorang untuk memberitahukan
tentang kunjungan putranya dan meminta agar semua yang dilihat putranya tampak
baik dan indah, dan semua yang jelek supaya disembunyikannya. Akan tetapi
takdir tidak bisa ditolak pada beberapa perjalanannya ia ditemani oleh seorang
kusirnya Channa, ia melihat sesuatu yang membuat ia berpikir mendalam dan
sedih, orang tua dimakan usia, orang sakit diliputi luka dan orang mati
dikuburkan. Ia lalu bercerita kepada Channa bahwa semua itu adalah keadaan yang
melekat pada kehidupan dan tak seorangpun dapat terhindar darinya. Dalam setiap
keadaan ia berusaha menyenangkan hatinya, namun semakin ia tahu sesuatu justru
ia menjadi semakin sedih.
Persoalan
hidup sekitar penderitaan manusia yang telah ia lihat itu, selain dipikirkan
dan direnungkannya, dicarilah jawabannya di dalam pelajaran Weda yang telah
diterimanya dari para brahmana, tetapi belum ditemukan jawaban yang memuaskan.
Selain itu terpikir juga nasib sebagai rakyat yang miskin dan sengsara dari
kalangan Kasta Sudra. Apa sebabnya dang Brahma, pencipta yang Maha Tunggal
membagi-bagi manusia dlam bentuk Kasta. Apakah benar yang demikian itu aturan
sang Brahma.
Semakin
direnungkan semakin dalamlah sedih dan dukanya. Makanan yang enak, pemandangan
yang indah, nyanyian dan musik yang merdu tak menghiburnya, bahkan kesenangan
itu dianggapnya fatamorgana, kesenangan yang hanya sekejap saja. Pada suatu
hari ia ke luar dengan kusir Channa, ia melihat seorang muni (petapa) yang tua
memakai pakaian kasar warna kuning. Berjalan kesana kemari meminta-minta,
tetapi wajahnya tabah dan tenang. Ia pun tertarik dan memutuskan inilah jalan
yang tepat untuk mencari kebenaran. Sejak itu ia memutuskan hendak meninggalkan
istana dengan kesenangannnya dan kemewahannya. Ia hendak pergi mengembara dan
bertapa ke hutan-hutan untuk menyelami rahasia hidup. Ayahnya tak mampu
menghalangi niat Siddharta, bahkan ketika itu istrinya yang sedang hamil dan
hendak melahirkan anaknya juga tak mampu mengikat hatinya untuk tinggal di
istana sebelum hatinya terpaut kasih kepada putranya itu.
Pada
suatu malam ketika semua pengawal istana sedang lengah dan lalai. Pangeran
Siddharta memerintahkan kusirnya untuk menyiapkan seekor kuda. Pangeran
Siddharta menengok istrinya dan anaknya yang masih bayi itu dengan rasa kasih
dan mesra. Dengan diam-diam ia keluar dari kamarnya dan terus keluar dari
istana melintasi pintu gerbang melalui para pengawal yang sedang lengah dan
naik kuda bersama Channa menuju kerajaan Mogadah.
Setelah
jauh dari kapilavastu mereka turun dari kudanya. Disana Siddharta mencukur
rambut dan jenggotnya sehingga tampangnya sebagai seorang bangsawan telah
berubah menjadi mirip seorang bhiksu. Setelah itu ia memerintahkan Channa untuk
kembali ke istana, sedangkan ia sendiri akan melanjutkan perjalanannya menjadi
seorang pendeta atau bhiksu, untuk mencari rahasia dan hikmat hidup.
Dalam
perjalanannya ini ia bertekat tidak akan kembali ke kota Kapilavastu sebelum
mendapatkan apa yang dicarinya, yaitu hakekat hidup, obat penderitaan segenap
manusia. Ditengah perjalanan ia bertukar pakaiana dengan seorang pemburu yang
berpakaian kumal. Dengan pakaian tersebut ia menyamar sehingga tidak aka nada
seorangpun yang , mengenali bahwa ia seorang bangsawan putra mahkota suatu
kerajaan terkenal pada masa itu.
Dalam
pemgembaraannya itu, Siddaharta mengunjungi beberpa biara dan asrama Brahmana,
dan perguruan Brahmana yang terkenal. Semua jawaban yang ia peroleh terhadap
hakekat dan rahasia hidup adalah hendaknya memepelajari kitab Weda. Dengan
jawaban para pendeta tersebiut Siddharta merasa tidak puas. Ia pergi
meninggalkan mereka lalu bertemu dengan lima orang Bhiksu yang sedang sama-sama
mencari hikmat dari rahasia hidup. Kelima Bhiksu itu mengajarkan bahwa untuk
mendapatkan hikmat dan kesempurnaan hidup harus mensucikan roh dan jiwa dengan
jalan menyiksa diri dengan kelaparan dan dahaga.
Ia
menjalani cara ini bersama lima bhiksu tadi masuk ke dalam hutan melakukan pertapaan
dengan tidak makan sama sekali, menanggung lapar dan dahaga, siang dan malam
duiduk merenung, hujan dan panas, angin malam dan embun tiada diperhatikannya
hingga badannya kurus kerontang tinggal kulit pembalut tulang. Namun apa yang
ia cari belum juga ia dapatkan. Akhirnya ia memutuskan untuk berpisah
meninggaljan kelima bhiksu tersebut. Kembali makan seperti biasanya. Ia yakin
benar bahwa menyiksa tubuh dan menyengsarakan diri hanyalah memadamkan cahaya
pikiran. Ajaran Brahmana untuk mencapai hidup hikmat yang tinggi dengan jalan
penyiksaan diri tidaklah dapat di terima. Tujuan tersebut selamanya tidak akan
tercapai. Siddharta meneruskan perjalanannya, mengembara. Meminta-minta sekedar
untuk kelangsungan hidupnya, merenungi hakekat hidup dan kebenaran.[7]
Akhirnya
pada suatu sore di bulan purnama ( waktu ia berumur 30 tahun) pada bulan
Vaisakh (april-mei) ia duduk dibawah pohon Bodhi atau Bodh gaya dengan
bermaksud tidak akan meninggalkan pohon itu sebelum ia mendpatkan pencerahan.
Ketika Mara (Iblis) mengetahui bahwa Siddharta sekarang bermaksud untuk
berusaha dengan sekuatnya mendapatkan pencerahan yang sempurna, ia menggerakkan
seluruh roh-roh jahat unruk menghalangi Siddharta. Berbagai macam cara yang
dilakukan Mara, akan tetapi usahanya tetap sia-sia. Demikian malam itu dilalui
dengan peperangan melawan mara dan bala tentaranya. Tetapi Siddhartalah yang
menang, dan mala mini pula ia mendapatkan pencerahan, cahaya (Boddhi). Seluruh
kemenangan Siddharta sebenarnya dicapai melalui tiga tahap, yaitu:
1.
Tahap yang pertama ia mendapatkan
pengetahuan tentang kehidupan yang terdahulu
2.
Tahap kedua ia menjadi maha tahu yang
sudah terjadi
3.
Tahap tiga ia dapat pengertian tentang
pangkal yang bergantungan, yang menjadi awal segala kehidupan
Demikian
pada waktu matahari terbit Siddharta sudah mendapatkan pencerahan yang
sempurna. Banyak mukjizat yang terjadi pada waktu yang mulia itu. Gempa bumi
hingga enam kali, seluruh alam diterangi dengan sinar yang terang benderang.
Kejahatan meninggalkan seluruh hati manusia. Segala kekurangan disempurnakan,
yang sakit menjadi sembuh, seluruh makhluk memperoleh kedamaian, dewa-dewa
menyebarkan bunga-bunga dan Siddharta disebut Tathagata.[8]
Mula-mula
ia ragu untuk menyebarkan pengetahuannya kepada manusia. Setelah menghadap dewa
Brahmana ia pun menyebarkan pengetahuannya yang sungguh menyinari dunia ini.
Sejak itulah Siddharta menjadi Buddha. Artinya yang disinari. Dan menyiarkan
keyakinannya ke Negara suci Buddha selama 45 tahun. Ia melihat
penganut-penganutnya semakin bertambah, bahkan raja-raja dan rakyatnya
berduyun-duyun meminta petunjuk hidup kepada Buddha.
B.
Pakar
Agama Budha
Berikut beberapa
pakar atau tokoh agama Budha dengan sebutan yang ada di agama Budha:
a.
Bhikkhu Bodhi
Bhikku Bodhi
adalah seorang bhikkhu yang berasal dari Amerika Serikat. Beliau dilahirkan
dengan nama Jeffrey Blok di New York City pada tahun 1944. Ia menerima gelar
ahli filsafatnya dari sekolah Claremont Graduate pada tahun 1972 dan pada tahun
yang sama ia bergabung di Buddhist Order-Srilangka sebagai samanera, yang pada
tahun 1973. Beliau menjadi seorang Bhikkhu di bawah bimbingan Bhikkhu Balangoda
Ananda Maitreya Mahanayakan Thera.
b.
Bhikkhu Nanatiloka
Ia
lahir pada tanggal 19 Februari 1878 di kota Wiesbaden, Jerman. Beliau diberi
nama Anton Walter Florus Gueth oleh orangtuanya. Tempat kelahiran beliau adalah
sebuah kota yang terkenal di Jerman Barat.
c.
Balaputradewa
Balaputradewa
adalah raja Sriwijaya yang memerintahkan sekitar abada ke-9 atau ke-10 Masehi.
Beliau berasal dari keluarga Syailendra, yang berkuasa di Pulau Jawa mulai
sekitar tahun 750. Ayah Balaputradewa bernama Samaragrawira dan ibunya bernama
Tara.
d.
Sakyakirti
Sakyakirti
adalah seorang mahaguru agama Buddha yang ada di kerajaan Sriwijaya. Menuirut
kesaksian I-Tsing Sriwijaya telah menjadi pusat agama Buddha. Disana ada lebih
dari seribu pendeta yang belajar agama Buddha. Diperkirakan di Sriwijaya sudah
berdiri sebuah perguruan Buddha, dan perguruan tersebut mempunyai hubungan baik
dengan perguruan Buddha di Nalanda India.
e.
Kertanegara
Kertanegara
adalah raja terakhir Kerajaan Singasari. Beliau adalah cicit Ken Arok.
Kertanegara memerintah tahun 1268-1292. Kartanegara bergelar Maharajadhiraja
Sri Kertanegara Wikrama Dhar,ottunggadewa. Kartanegara adalah raja yang sangat
terkenal baik dalam bidang politik maupun kegamaan. Dalam bidang
politik,Kertanegara dikenal sebagi raja yang menguasai ilmu ketatanegaraan dan
mempunyai gagasan memperluas wilayah kerajaannya. Kartanegara menganut agama
Buddha Tantrayana.[9]
C.
Ajaran
Pokok Agama Budha
Ketika
Buddha berusia 80 tahun, ia wafat atau masuk ke Pernirvana (Nirwana), di
Kusinara. Tubuhnya dikremasi dengan upacara besar. Kemudian abunya digunakan
sebagai jimat yang dibagi menjadi 8 bagian dan dibagikan kepada seluruh
pemimpin bangsa yang mendirikan stup (dagona, pagoda) di Negara-negara yang
menganut Buddha menuntut agar setidaknya memiliki satu bagian abu jimat dari
Buddha.[10]
Inti dari ajaran Siddharta (Budhha) Tri Ratna atau Tiga Mustika, sebagi
berikut:
a.
Buddha
Buddha
berarti seorang yang telah mencapai penerangan atau pencerahan sempurna dan
sadar akan kebenaran kosmos serta alam semesta. “Hyung Buddha” adalah seorang
yang telah mencapai penerangan luhur, cakap dan bijak menunaikan karya-karya
kebajikan dan memperoleh kebijaksanaan kebenaran mengenai nirvana serta
mengumumkan doktrin sejati tentang kebebasan atau keselamatan kepada dunia
semesta sebelum penirvanaan. Hyang Buddha yang berdasarkan sejarah bernama
Shakyamuni pendiri agama Buddha. Hyang Buddha yang berdasarkan waktu kosmik ada
banyak sekali dimulai dari Dipankara Buddha.[11]
b.
Dharma
Hukuman
Kebenaran, agama, hal-hal apa saja yang berhubungan dnegan ajaran agama Buddha
sebagai agama yang sempurna. Dharma mengandung 4 makna utama:
1.
Doktrin
2.
Hak, keadilan, kebenaran
3.
Kondisi
4.
Barang yang kelihatan atau phenomena
Setelah 45 tahun mendakwahkan ajaran-ajarannya yang
sangat di tentang oleh kaum pendeta Hinduisme itu akhirnya dia wafat dalam usia
80 tahun. Janazahnya di bakar dan abunya di bagi-bagikan kepada raja-raja yg
mengikuti ajarannya. Kota tempat budha wafat itu ialah kusinagara.
Dengan demikian pengikut-pengikutnya memandang adanya
empat tempat yang di sucikan selama-lamanya. Empat kota suci tersebut
menurut pemeluk ajaran budha ialah:
1.
Kapilavastu
: tempat kelahiran Gautama
2.
Bodhgaya:
tempat dimana Gautama mendapat ilham pertama
3.
Benares
(kasi): tempat dia pertama kali mengajarkan ilham
4.
Kusinagara
: tempat dimana dia wafat dalam usia 80 tahun.
Ajaran agama
Buddha bersumber pada kitab Tripitaka yang berarti tiga keranjang, atau tiga
kumpulan ajaran. Kita ini merupakan kumpulan khotbah, keterangan, perumpamaan
dan percakapan yang pernah dilakukan sang Buddha dengan para siswa dan
pengikutnya. Dengan demikian isi kitab tersebut semuanya tidak berasal dari
kata-lata Buddha sendiri, melainkan juga kata-kata dan komentar-komentar dari
siswanya.
Oleh para
siswanya sumber ajaran tersebut dipilih menjadi tiga kelompok:
1.
Sutra Pittaka, yang menurut dharma atau
ajaran Buddha kepada pengikut-pengikutnya.
2.
Vinaya Pittaka, yang memuat
peraturan-peraturan yang mengatur kehidupan Sanha dan para penganutnya.
3.
Adhidharma Pittaka, yang memuat filsafat
agama Buddha, di mana terdapat pembahasan yang mendalam tentang hakekat dan
tujuan hidup.
Dalam
syahadat (ucapan kesaksian) agam Buddha yang disebut Triratna berbunyi :yakni tiga permata, dimaksudkan tiga buah pengakuan dari setiap
penganut agama Budha, seperti halnya dengan Credo di dalam agama Kristen
ataupun Syahadat di dalam agam Islam. Tiga pengakuan di dalam agama
Buddha itu berunyi:
1.
Buddham sarana
gacchami “Saya berlindung di dalam Buddha”,
“Siddharta Gautama”
2.
Dhammam saranam
gacchami “Saya berlindung di dalam Dhamma”,
“Pokok-pokok ajaran”
3.
Sangham saranam
gacchami “Saya berlindung di dalam Sangha”,
“Biara”.
Trinata ini harus diucapkan tiga kali. Pada kali kedua diawali
dengan Dutiyam “buat kedua kalinya” dan pada kali ketiga diawali dengan Tatiyam
“buat ketiga kalinya”, ketiga-tiganya diyakini sebagai asas perlindungan
bagi setiap penganut agama Buddha, yakni asas keyakinan yang dianut madzhab
Theravada dan Mahayana.[12]
Dan
pada prinsipnya ada sepuluh larangan yang disebut Dasasila, yang merupakan
pokok-pokok etika Buddha. Sepuluh larangan itu ialah :
1.
dilarang menyakiti atau membunuh sesama
manusia,
2.
dilarang mencuri,
3.
dilarang berzina,
4.
dilarang berkata kasar atau berdusta,
5.
dilarang minum-minuman keras,
6.
dilarang serakah,
7.
dilarang melihat kesenangan,
8.
dilarang bersolek,
9.
dilarang tidur ditempat yang mewah dan
10. dilarang
menerima suap.[13]
Dalam
ajaran-ajaran agama Budha telah melahirkan beberapa hari suci yang mewarnai pengamalan
agama Budha. Berikut beberapa hari suci tersebut:
1.
Hari Waisak
Hari
ini memperingati tiga peristiwa yaitu :
a.
Hari
kelahiran Pangeran Sidharta,
b.
Hari
pencapaian penerangan sempurnaPertapa Gautama,
c.
Dan
hari sang Buddha wafat atau mencapai Nibbana atau Nirwana.
Hari waisak dikenal juga dengan hari Visakah Puja atau
Purnima Buddha di India. Dan masih banyak lagi nama sesuai negara
masing-masing. Sedangkan Waisak berasal dari bahasa Pali “Wesakha” dan dalam
bahasa Sansakerta “Waishakha”. Pada hari waisak ini mengajak umat Buddha untuk
menelaah kehidupan masing-masing, dan senantiasa berpedoman kepada Buddha
Dharma.
Hari waisak adalah hari dimana merenungkan dan
menghayatikembali perjuangan hidup Buddha Gotama, yang dibesarkan dengan segala
kemewahan dan rela meninggalkan itu semua demi cinta kasihnya kepada semua
makhluk. Sidharta meninggalkan Istana bukan karena paksaan dan dorongan apapun
terkecuali mencari kehidupan yang hakiki. Beliau berjuang dengan gigih dan
pantang menyerahdalam upaya menycari jalan yang dapat menyelamatkan makhluk
dari segala penderitaan.
2.
Hari Kathina
Hari ini merupakan upacara persembahan jubah kepada lima
Bikkhu (Sangha) setelah menjalani vassa (musim penghujan di daerah Sang Buddha
selama tiga bulan) berakhir, yaitu sehari sesudah bulan purnama penuh (Juli),
sampai sehari sebelum hari Khatina (Oktober). Dalam kesempatan ini selain
memberikan persembahan jubah khatina, umat Buddha juga berdana untuk kebutuhan
pokok para Bikkhu, perlengkapan Vihara, dan berdana untuk perkembangan dan
kemajuan Agama Buddha. Dan para Bhikku yang telah melaksanakan Vassa sebanyak
sepuluh sampai sembilan belas kali akan mendapatkan gelar “Thera”, dan para
Bikkhu yang telah menjalankan Vassa sebanyak dua puluh kali akan ge mendapatkan
gelar tertinggi yaitu “Mahathera”.
Dan mereka hanya mempunyai emapat kebutuhan yaitu : (1).
Civara atau Jubah, (2). Pindapata atau makan, (3). Senasana atau tempat
tinggal, (4). Gilanapaccayabhesajja atau obat-obatan.
3.
Asadha
Hari kebaktian ini
diperingati dua bulan setelah hari raya waisak, guna memperingati peristiwa
dimana Buddha menebarkan Dhamma untuk pertama kalinya kepada lima orang pertapa
(panca vagiya) dalam hal ini Buddha membuat Arya Sangha Bikkhu (persaudaraan
para Bikkhu Suci). Dengan demikian Tri Ratna menjadi lengkap, sebelumnya baru
ada Buddha dan Dhamma.
4.
Magha Puja
Hari suci Magha Puja memperingati empat peristiwa
yang penting, yaitu :
a)
Seribu dua ratus lima puluh orang
bhikshu datang berkumpul tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
b)
Mereka semuanya telah mencapai tingkat
kesucian arahat.
c)
Mereka semuanya memiliki enam abhinna.
d)
Mereka semua ditasbihkan oleh Sang
Buddha dengan ucapan “Ehi Bhikkhu”
Peristiwa
penting ini dinamakan Caturangga-sannipata, yang berarti pertemuan besar para
arahat yang diberkahi dengan empat faktor, yaitu seperti tersebut di atas.
Peristiwa penting ini terjadi hanya satu kali dalam kehidupan Sang Buddha
Gotama, yaitu pada saat purnama penuh di bulan Magha (Februari), tahun 587
Sebelum Masehi ( sembilan bulan setelah Sang Buddha mencapai Bodhi). Pada waktu
itu, seribu dua ratus lima puluh orang Bhikkhu datang secara serempak pada
waktu yang bersamaan, tanpa adanya undangan dan perjanjian sebelumnya ke tempat
kediaman Sang Buddha di vihara Veluvana (Veluvanarama, yang berarti hutan pohon
bambu) di kota Rajagaha. Mereka datang dengan tujuan untuk memberi hormat
kepada Sang Buddha sekembalinya mereka dari tugas menyebarkan Dhamma dan
melaporkan hasil penyebaran Dhamma yang telah mereka lakukan tersebut.[14]
BAB
III
KESIMPULAN
Banyak
mukjizat yang terjadi pada waktu yang mulia itu. Gempa bumi hingga enam kali,
seluruh alam diterangi dengan sinar yang terang benderang. Kejahatan
meninggalkan seluruh hati manusia. Segala kekurangan disempurnakan, yang sakit
menjadi sembuh, seluruh makhluk memperoleh kedamaian, dewa-dewa menyebarkan
bunga-bunga dan Siddharta disebut Tathagata.
Mula-mula
ia ragu untuk menyebarkan pengetahuannya kepada manusia. Setelah menghadap dewa
Brahmana ia pun menyebarkan pengetahuannya yang sungguh menyinari dunia ini.
Sejak itulah Siddharta menjadi Buddha. Artinya yang disinari. Dan menyiarkan
keyakinannya ke Negara suci Buddha selama 45 tahun. Ia melihat
penganut-penganutnya semakin bertambah, bahkan raja-raja dan rakyatnya
berduyun-duyun meminta petunjuk hidup kepada Buddha.
Pakar
atau tokoh agama budha antara lain : Bhikkhu Bodhi, Bhikkhu Nanatiloka, Balaputradewa,
Sakyakirti, Kertanegara.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Manaf, Mudjahid. 1996. Sejarah Agama-Agama,
cetakan ke-2. (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada)
Abdul Manaf, Mujahid. 1996. Sejarah
Agama-Agama.
(Jakarta:Raja
Grafindo Persada)
Arifin, Zainul. 1996. Hinduisme-Buddhaisme
(Agama Hindi dan Agama Budhha). (Surabaya)
Hadiwijono, Harun. 1977. Agama Hindu dan Buddha. (Jakarta: Badan
Penerbitan Kristen)
Hakim,
Agus. 1996. Perbandingan Agama.
(Bandung: Diponegoro)
JR, A.G.Honig.
1997. Ilmu Agama.
(Jakarta:Gunung
Mulia)
Rifai,
Mo. 1984 Perbandingan Agama,
(Semarang: Wicaksana)
Sou’yb, Joesoef. 1983. Agama-agama Besar di Dunia. (Jakarta:
Pustaka Al Husna)
Sudharma, Budiman. 2007. Buku Pedoman Umat Buddha Edisi Ke-5.
(Jakarta: Grafindo)
[1]A.G.Honig JR, Ilmu Agama, (Jakarta:Gunung Mulia), 1997, hlm.165
[2]Joesoef
Sou’yb, Agama-agama Besar di Dunia,
(Jakarta: Pustaka Al Husna, 1983), hlm. 72
[3]Mujahid Abdul
Manaf, Sejarah Agama-Agama, (Jakarta:Raja Grafindo Persada), hlm.21
[4]Zainul
Arifin, Hinduisme-Buddhaisme (Agama Hindi
dan Agama Budhha), (Surabaya, 1996), hlm. 71
[7]Agus
hakim, Perbandingan Agama, (Bandung:
Diponegoro, 1978), hlm. 157
[8]Harun
Hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha,
(Jakarta: Badan Penerbitan Kristen, 1977), hlm. 52
[9]Ibid., hlm 24
[10]Mo. Rifai,
Perbandingan Agama, (Semarang:
Wicaksana, 1984), hlm. 94
[11]Budiman
Sudharma, Buku Pedoman Umat Buddha Edisi
Ke-5, (Jakarta: Grafindo, 2007), hlm. 72
[12]Josoef Sou’yb, Agama-Agama Besar Di Dunia (Jakarta:
Al- Husna Zikra, 1996), hlm. 80-81
[13]Mudjahid
Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama,
cetakan ke-2, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 26-32
[14]http://budhismeuin.blogspot.co.id/2012/05/makalah-revisi.html, diakses pada, Kamis, 20 April 2017, 05.00 wib
Komentar
Posting Komentar